BANDUNG – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum refleksi bagi generasi muda. Semangat persatuan yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 dinilai jangan berhenti pada seremonial dan retorika, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Sumpah Pemuda yang lahir dari kesadaran kolektif para pemuda telah menjadi fondasi persatuan bangsa. Namun, tantangan yang dihadapi generasi saat ini jauh berbeda. Persoalan ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan mental, hingga derasnya arus informasi digital menjadi ujian tersendiri, Rabu (28/10).
Semangat yang Harus Diterjemahkan
Nilai-nilai Sumpah Pemuda dinilai perlu diterjemahkan dalam tindakan sehari-hari: menjaga toleransi, menghargai perbedaan, serta berkontribusi bagi masyarakat. Persatuan tidak cukup diucapkan, tetapi dibuktikan melalui sikap dan karya.
Generasi muda diharapkan tidak terjebak dalam polarisasi dan provokasi di ruang digital. Sikap kritis tetap diperlukan, namun harus disertai tanggung jawab dan etika.
Aksi Nyata, Bukan Sekadar Kata
Peringatan Sumpah Pemuda sejatinya menjadi panggilan untuk berbuat lebih baik. Pemuda tidak hanya dituntut gagah dalam kata, tetapi juga kuat dalam karya dan konsisten dalam integritas. Semangat persatuan harus dibarengi dengan kompetensi dan kepedulian terhadap sesama.