Cirebon — Kerinduan masyarakat terhadap tradisi leluhur kembali mengemuka. Warga Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mendorong agar rangkaian tradisi budaya seperti Festival Sedekah Bumi, arak-arakan, nadran, hingga ider-ideran dapat kembali digelar.
Bagi masyarakat, tradisi tersebut bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan religi. Pelaksanaannya juga memiliki keterkaitan erat dengan kawasan Makam Sunan Gunung Jati, yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas budaya dan religi masyarakat di wilayah Gunung Jati.
Juru Kunci atau Jeneng Makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, mengatakan gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi ider-ideran muncul dari aspirasi sejumlah tokoh masyarakat.
“Intinya berdasarkan masukan-masukan dari tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya acara ider-ideran itu diadakan kembali,” kata Nasir usai rapat pembahasan.
Meski mendapat dorongan kuat dari masyarakat, Nasir menegaskan bahwa pelaksanaan tradisi tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi lalu lintas serta aktivitas warga. Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan adalah melakukan penyesuaian terhadap rute arak-arakan.
“Rutenya mungkin yang tadinya sampai batasan Taman Krucuk, saya akan ubah sampai batasan di Klayan atau di Pertamina saja,” ujarnya.
Penyesuaian rute tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi potensi kemacetan sekaligus memastikan kegiatan budaya dapat berlangsung dengan tertib dan tidak mengganggu mobilitas masyarakat secara berlebihan.
Selain rute, waktu pelaksanaan juga menjadi bagian yang akan disesuaikan. Jika sebelumnya keberangkatan direncanakan pada Sabtu, Nasir menyebut pihaknya akan mengusulkan agar kegiatan dilaksanakan pada Minggu pagi.
Menurutnya, penyesuaian tersebut diharapkan dapat menjadi jalan tengah antara pelestarian tradisi dan kebutuhan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Nasir berharap rencana menghidupkan kembali tradisi leluhur tersebut mendapat dukungan dari masyarakat Desa Astana maupun wilayah sekitarnya.
Sebab, menjaga warisan budaya bukan hanya tanggung jawab satu pihak.
Diperlukan kebersamaan masyarakat agar tradisi yang diwariskan para leluhur tetap hidup, berkembang, dan dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi akar sejarahnya.