BANDUNG, – Memasuki awal Ramadhan, kawasan pemakaman umum di Kota Bandung, seperti Astana Anyar dan Ciburuy, tak hanya dipenuhi peziarah, tetapi juga para pemalak musiman. Memanfaatkan momen “nyekar” dan kedermawanan umat, sindikat pengemis profesional mengubah area sakral ini menjadi ladang basah dengan omzet hingga jutaan rupiah per hari, Sabtu (14/2/2026).
Fenomena tahunan ini menghadirkan pemandangan ironis. Ribuan umat yang datang untuk mendoakan leluhur harus berhadapan dengan aksi pungutan liar (pungli) dan teror psikologis. Para peziarah bukan hanya disambut doa, tetapi juga tekanan dari oknum yang memanfaatkan bulan suci demi keuntungan pribadi.
Sistemik dan Ilegal Sedekah atau Pungli?
Temuan di lapangan mengungkap praktik ini telah berjalan sistematis. Para pelaku, yang didominasi pendatang dari luar daerah, tak segan mengeksploitasi anak di bawah umur sebagai alat pemikat belas kasihan. Mereka secara terorganisir menguasai titik-titik strategis, seperti pintu masuk makam dan sekitar kotak amal, untuk menekan peziarah agar mengeluarkan uang.
“Kami datang untuk mendoakan leluhur, malah jadi tidak khusyuk. Ini bukan sedekah, ini pemaksaan. Ada yang menjaga kotak amal sambil memelas, bahkan sampai menarik baju,” ujar seorang peziarah dengan nada kesal.
Bisnis Haram Beromzet Fantastis
Di balik aksi memelas mereka, tersimpan potensi ekonomi yang menggiurkan. Seorang pengemis profesional di kawasan ini diperkirakan mampu mengantongi hingga Rp1 juta per hari. Besarnya pendapatan inilah yang diduga menjadi daya tarik utama bagi sindikat untuk terus mendatangkan pasukan baru, termasuk anak-anak, guna mengeruk keuntungan selama Ramadhan.
Menyikapi hal ini, masyarakat mendesak aparat terkait untuk segera melakukan penertiban menyeluruh di kawasan pemakaman, khususnya Astana Anyar, Ciburuy, dan sekitarnya. Tindakan tegas diperlukan agar esensi ziarah di bulan suci dapat kembali khusyuk, terbebas dari teror dan praktik pungli yang mencemarkan nilai-nilai ibadah.