Kuningan – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menimbulkan kekhawatiran serius. Luas area terdampak diperkirakan mencapai 50 hingga 60 hektare, sementara tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman di tengah medan yang terjal dan keterbatasan sumber air.
Hingga Jumat (23/10/2026), upaya penanganan kebakaran masih berlangsung. Petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan, mulai dari sulitnya akses menuju titik api, kondisi geografis yang ekstrem, hingga terbatasnya ketersediaan air untuk mendukung proses pemadaman.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Toni Anwar, menjelaskan bahwa perkiraan luas area yang terbakar tersebut masih merupakan data awal berdasarkan kondisi penanganan di lapangan.
Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah mengendalikan api agar tidak merambat lebih luas dan mengancam kawasan hutan lainnya.
“Fokus kami saat ini masih pada pemadaman. Kendala utama di lapangan adalah kondisi medan, akses menuju titik api, serta ketersediaan air,” ungkap Toni kepada media, Sabtu (24/10/2026).
Ia menjelaskan, karakteristik geografis kawasan Gunung Ciremai yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Kondisi tersebut membuat mobilisasi personel maupun peralatan pemadam membutuhkan upaya ekstra.
Selain medan yang terjal, minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran turut memperlambat proses penanganan. Karena itu, koordinasi dan dukungan berbagai pihak menjadi faktor penting untuk memperkuat upaya pemadaman di kawasan konservasi tersebut.
Besarnya perkiraan area terdampak menjadi perhatian serius, mengingat Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan kawasan konservasi yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, keanekaragaman hayati, serta fungsi ekologis lingkungan.
Penanganan yang cepat dan terkoordinasi diperlukan untuk mencegah meluasnya kebakaran sekaligus meminimalkan dampak terhadap kelestarian hutan.
Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, perkembangan kondisi di lapangan menjadi hal penting untuk terus dipantau. Pendataan luas area terdampak secara lebih akurat juga diperlukan setelah proses penanganan memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa perlindungan kawasan konservasi membutuhkan kesiapsiagaan, kerja sama lintas pihak, serta kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan.
Gunung Ciremai bukan sekadar bentang alam, melainkan penyangga kehidupan yang kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.