BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, angkat bicara terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menimpa ratusan buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi. Menurutnya, fenomena tutupnya pabrik garmen bukan hal baru karena industri padat karya memiliki siklus usaha yang rentan terhadap perubahan biaya produksi.
Dedi menyatakan industri garmen umumnya akan berpindah ke daerah dengan biaya tenaga kerja lebih rendah ketika perusahaan mencapai titik impas atau mengalami tekanan usaha.
“Garmen itu selalu problem. Sektornya biasanya padat karya. Kalau dia sudah break-even point, kemudian ada tempat lain yang tenaga kerjanya lebih murah, biasanya pindah,” kata Dedi, Selasa (4/8).
Industri Padat Karya Berbeda dengan Padat Modal
Dedi menjelaskan kondisi tersebut telah terjadi di berbagai daerah. Berbeda dengan industri padat modal yang cenderung bertahan, industri garmen lebih mudah berpindah lokasi bahkan menghentikan operasional.

“Itu sudah terjadi di mana-mana. Kalau ada industri padat karya sektor garmen, harus berhati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun, dia pasti menutup,” ujarnya.
Peluang Kerja Baru di Jabar Timur
Menanggapi nasib pekerja yang kehilangan pekerjaan, Dedi memastikan peluang kerja di Jawa Barat masih terbuka lebar. Pertumbuhan kawasan industri di sejumlah wilayah menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru, terutama di sektor alas kaki dan garmen.
“Lapangan kerja baru juga banyak hari ini. Banyak sekali lapangan kerja terbuka di Jawa Barat. Industri mulai tumbuh, kawasan industri mulai tumbuh,” katanya.
Kebutuhan tenaga kerja saat ini bergeser ke wilayah Jawa Barat bagian timur. Rekrutmen besar-besaran disebut tengah berlangsung di Kabupaten Indramayu, Majalengka, hingga Garut.