BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung meluncurkan program “Bandung Utama Goes to Zero New Stunting” sebagai gerakan pencegahan stunting, Rabu (15/7). Acara digelar di YESS Coffee & Eatery, Jl. Gatot Subroto No. 112, dan dihadiri oleh jajaran Dinas Kesehatan, TP-Posyandu Kota Bandung, serta anggota DPRD Kota Bandung.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dr. Sony Adam, S.H., M.M., dalam laporannya menyampaikan bahwa angka stunting di Kota Bandung masih berada di angka 22,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Angka ini dinilai masih tinggi dan memerlukan perhatian serius.

“Prefensi stunting sebesar 22,8 persen untuk Kota Bandung. Ini angka yang sangat tinggi,” ujar Sony Adam.
Intervensi Terpadu Digalakkan
Untuk menekan angka stunting, Dinas Kesehatan akan melakukan intervensi gizi spesifik dan sensitif secara terintegrasi, mencakup kesehatan, pendidikan, sanitasi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Mulai hari ini, dinas kesehatan bersama kewilayahan akan melakukan rutinitas evaluasi. Kepala puskesmas akan mengadakan rapat dengan lurah dan menyampaikan daftar balita bermasalah gizi,” jelasnya.
Pemberian makanan tambahan (PMT) akan dipantau secara berkala, dan lokakarya mini kecamatan akan digelar untuk membahas hambatan di lapangan.
Peran Posyandu dan Kader Kesehatan
Ketua TP-Posyandu Kota Bandung, Riana, menekankan pentingnya peran posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
“Posyandu menjadi tempat pertama bagi ibu hamil memperoleh pendampingan, edukasi gizi, imunisasi, hingga PMT untuk pemenuhan gizi balita,” ujarnya.
Kader posyandu diharapkan aktif mendorong partisipasi masyarakat dalam pencegahan stunting.
Wali Kota Stunting Bukan Masalah Sepele
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan stunting bukan masalah kesehatan semata, melainkan persoalan serius yang berdampak pada kualitas generasi mendatang.
“Stunting bukan hanya masalah kesehatan. Ini akan menjadi PR kita semua. Jangan sembarangan,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti angka rasio ketimpangan kesejahteraan (gini ratio) Kota Bandung yang masih di angka 0,42 dengan target turun 0,2 setiap tahun hingga mencapai 0,36 pada 2029.
Asupan Gizi dan Pola Asuh Jadi Kunci
Dr. Agung Firmansyah Sumantri, anggota DPRD Kota Bandung, dalam sambutannya menyoroti pentingnya asupan gizi jangka panjang.
“Tinggi badan adalah termin asupan gizi jangka panjang. Jika berat badan anak tidak naik 3 bulan berturut-turut, tinggi badannya akan berhenti tumbuh,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya edukasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui mengenai gizi seimbang, imunisasi, serta pola asuh yang sehat.
Gerakan “Bandung Utama Goes to Zero New Stunting” diharapkan mampu menekan angka stunting melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen terkait.