BANDUNG BARAT – Kompleks makam Eyang Dalem Raden Ibrahim di Kampung Tambakan, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, hingga kini menjadi situs ziarah religi yang tak pernah sepi pengunjung. Di balik popularitasnya sebagai tokoh spiritual, tersimpan kisah tentang seorang ulama yang konon berhasil menggagalkan upaya penangkapan pemerintah kolonial Belanda, Rabu (1/4).
Eyang Dalem Raden Ibrahim dikenal sebagai ulama ahli tafsir kelahiran Cipatik yang memiliki pendirian kuat. Pada masa kolonial, ia ditawari jabatan “dalem” posisi yang saat itu identik dengan pemimpin pemerintahan. Namun, tawaran itu ditolaknya.
Penolakan tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda geram hingga mengancam akan menangkap dan memenjarakannya. Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat, upaya penangkapan yang dilakukan pasukan Belanda pun gagal.
Konon, ratusan tentara Belanda yang dikerahkan merasakan kesemutan pada kaki mereka saat mencoba memasuki wilayah Cipatik. Tidak berhenti di situ, Belanda kembali mengerahkan pasukan berkuda dalam jumlah besar. Namun, kuda-kuda yang ditunggangi tiba-tiba mengamuk tanpa sebab, membuat pasukan kacau dan akhirnya mundur.
K.H. M. Muhyiddin Abdul Qadir Al-Manafi, M.A., menyebutkan bahwa Raden Ibrahim pernah menimba ilmu agama di pesantren di Surabaya hingga usia sekitar lima puluh tahun. Sepulangnya dari Jawa Timur, beliau menyebarkan ajaran Islam di Sumedang dan bahkan diminta oleh Pangeran Sumedang untuk menetap sebagai ulama di wilayah tersebut.
Namun, Raden Ibrahim menolak dengan sopan dan memilih kembali ke Cipatik untuk mendirikan pesantren serta berdakwah di kampung halamannya. Di sana, ia membangun komunitas keagamaan yang kuat dan disegani.
Setelah upaya penangkapan yang gagal, Belanda akhirnya tidak lagi memaksakan kehendak agar Raden Ibrahim menjadi dalem. Sebagai alternatif, mereka meminta beliau menunjuk orang yang layak. Raden Ibrahim kemudian menunjuk adiknya, Eyang Abdurrahman, yang selanjutnya diangkat sebagai dalem. Keturunan Abdurrahman kemudian melanjutkan kepemimpinan di wilayah Bandung.
Pengaruh Eyang Dalem Raden Ibrahim tidak hanya terbatas pada masa hidupnya. Dari keturunannya lahir sejumlah ulama berpengaruh, di antaranya KH Muhammad Hasan dari Sumedang serta KH Raden Muhammad Zarkasyi atau Mama Cibaduyut, yang turut berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Secara historis, sosok Raden Ibrahim kerap dikaitkan dengan silsilah tokoh Sunda terdahulu serta memiliki hubungan spiritual dengan jaringan penyebar Islam di Jawa Barat pasca era Prabu Siliwangi. Hingga kini, makamnya yang berada di seberang Pondok Pesantren Manba’ul Falah itu tetap menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin mengenang perjuangan dan keteladanan sang ulama.