BANDUNG – Seorang pria terkapar lemas di tanah dengan tubuh penuh luka saat hendak dinaikkan ke mobil ambulans di wilayah Babakan Ciparay, Kota Bandung, pada Rabu (6/5/). Bukan karena kecelakaan atau menjadi korban kejahatan, pria tersebut justru menjadi sasaran amukan massa yang salah sasaran.

Warga setempat awalnya menduga pria itu adalah pelaku begal yang tengah beraksi di kawasan tersebut. Emosi massa pun meledak. Tanpa melakukan klarifikasi lebih dulu, puluhan warga langsung mengeroyok pria tersebut dengan tangan kosong.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh warga dan petugas kepolisian yang tiba di tempat kejadian, terungkaplah fakta yang mengejutkan. Pria yang babak belur itu ternyata bukanlah pelaku begal, melainkan korban pembegalan yang sedang berusaha melarikan diri dari kejaran para pelaku kejahatan.

“Warga langsung emosi begitu melihat ada orang yang dikejar-kejar. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menangkap dan menghakimi. Padahal setelah dicek, dia justru korbannya. Pelaku aslinya sudah kabur ke arah lain,” ujar seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya.

Dari informasi yang dihimpun, para pelaku begal yang sebenarnya berhasil diamankan oleh warga setempat di lokasi yang berbeda. Akan tetapi, nyawa dan raga pria malang itu sudah lebih dulu menjadi bulan-bulanan massa yang salah sasaran.

Korban mengalami sejumlah luka lebam, memar, dan goresan di beberapa bagian tubuh akibat tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh massa. Tim medis yang tiba di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama sebelum akhirnya membawa korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.

Setelah korban sadar dan dapat berbicara, barulah terungkap identitasnya sebagai pihak yang dirugikan dalam aksi pembegalan tersebut. Namun, luka fisik dan trauma psikologis yang dialaminya akibat amukan warga yang salah sasaran tentu tidak bisa langsung pulih dalam sekejap.

“Saya cuma lari minta tolong, tapi malah dihajar. Saya pikir mau diselamatkan ternyata malah dihakimi,” ujar korban dengan suara lirih saat terbaring di atas tandu ambulans, seperti ditirukan oleh salah seorang petugas di lokasi.

Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar tidak mudah mengambil tindakan main hakim sendiri. Emosi sesaat dan semangat “kebersamaan” yang tidak dilandasi oleh informasi yang akurat justru dapat melahirkan korban yang tidak bersalah.

Unsur kesalahan informasi dan kurangnya klarifikasi menjadi akar masalah dalam insiden nahas ini. Bahkan, ironisnya, ketika warga berhasil mengamankan pelaku begal yang asli, korban yang tidak bersalah sudah lebih dulu menanggung akibat dari kemarahan massa yang keliru sasaran.

Pihak kepolisian yang tiba di lokasi akhirnya mengamankan kedua belah pihak, baik pelaku begal asli maupun korban yang menjadi sasaran amukan warga. Hingga berita ini diturunkan, korban masih menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Kota Bandung, sementara para pelaku begal sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut di kantor polisi.

Warga setempat yang sebelumnya ikut mengamuk kini menyesali perbuatannya. Beberapa di antara mereka bahkan sempat berusaha menjenguk korban di rumah sakit, namun pihak keluarga meminta agar proses penyembuhan korban tidak diganggu terlebih dahulu.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak bahwa menegakkan keadilan tidak boleh dilakukan dengan main hakim sendiri. Memastikan kebenaran informasi sebelum bertindak adalah langkah paling fundamental yang tidak boleh dilewatkan.

Langkah paling bijak jika menemukan atau menangkap seseorang yang diduga pelaku kejahatan adalah segera menyerahkannya kepada pihak kepolisian atau aparat keamanan setempat. Bukan dengan meluapkan emosi yang pada akhirnya justru dapat melahirkan korban baru, seperti yang dialami pria malang di Babakan Ciparay ini.