Bandung – Sebuah ajakan untuk merangkul para penyandang HIV tanpa menjauhkannya disampaikan oleh Lurah Sindang Jaya, Yayan Syurya Mulyana, ST, di hadapan warga dan unsur musyawarah kelurahan.
Kepedulian masyarakat terhadap jumlah penderita HIV dinilainya perlu ditingkatkan. Para warga yang hadir diminta untuk memahami materi yang telah disampaikan agar informasi tersebut dapat diteruskan ke lingkungan sekitar dengan penjelasan yang benar.
“HIV itu harus kita rangkul, tidak boleh dijauhi. Kita harus paham,” ujar Yayan.
Pernyataan tersebut ditekankannya sebagai bentuk edukasi publik guna mencegah diskriminasi terhadap penderita HIV di masyarakat.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ketua Komisi I DPRD dari Fraksi Partai Golongan Karya, Radea Respati Paramudhita. Menurutnya, penanganan HIV memerlukan peran aktif semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat.
Ajakan untuk tidak mengucilkan penderita HIV juga ditekankan oleh dr. Mery Lestari, dokter di poli rawat jalan Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Program sosialisasi penyakit HIV yang disusun hingga tingkat kelurahan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dinilai sangat positif olehnya, Rabu (20/5).
Program tersebut dinilai sebagai perpanjangan tangan bagi pihak rumah sakit dalam mengedukasi masyarakat. Menurut dr. Mery, sosialisasi mengenai penyakit biasanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Namun, karena program ini berkaitan dengan ketahanan keluarga, penyusunannya dilakukan oleh DP3A hingga ke lingkungan keluarga.
“Jadi buat saya, ini program yang sangat positif. Kami sebagai penggerak di rumah sakit memiliki perpanjangan dengan dibantu oleh DP3A melalui sosialisasi penyakit ini,” ujarnya.
Saat ini, tercatat 1.600 pasien HIV aktif yang menjalani pengobatan secara rutin di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Angka kasus HIV yang tinggi tersebut justru dinilai sebagai hal positif oleh dr. Mery.
Fenomena gunung es, di mana kasus di bawah permukaan tidak terdeteksi, dinilainya mulai terungkap berkat meningkatnya kesadaran dan berbagai program skrining. Saat ini, telah tersedia oral quick test atau tes mandiri melalui liur.
“Kasus tinggi itu jangan dianggap buruk. Menurut saya itu hal positif dan harus kita apresiasi sebagai hasil kerja keras dan kewaspadaan kita terhadap penyakit ini,” jelasnya.
HIV dijelaskan oleh dr. Mery sebagai penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan, sama seperti diabetes melitus. Pasien yang minum obat secara teratur dinyatakan memiliki kualitas hidup yang baik.
“HIV bukan penyakit yang menakutkan atau mematikan. Ini penyakit yang bisa dikendalikan. Semakin cepat dites, semakin cepat diketahui, maka kualitas hidup Anda akan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV,” tegasnya.
Kemudahan akses layanan tes dipastikan olehnya. Semua Puskesmas di Kota Bandung disebut mampu melakukan tes HIV secara gratis.
Masyarakat yang merasa berisiko diminta untuk segera mengakses layanan kesehatan tanpa perlu takut terhadap stigma. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kesetiaan kepada satu pasangan, menggunakan kondom, serta memanfaatkan program LAST (Layanan Alternatif Substitusi) untuk akses jarum suntik gratis di beberapa Puskesmas.
“Jangan nunggu sakit dan jangan takut dengan stigma. Segera tes,” pesannya.