KOTA BANDUNG – Penyandang disabilitas diajak untuk menguasai kemampuan digital oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung. Ajakan tersebut disampaikan melalui pelatihan Digital Marketing yang digelar di Kantor Disnaker Kota Bandung, Senin (25/5).

Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan A. Brillyana, menilai kota yang mampu beradaptasi dan mengadopsi teknologi akan berkembang lebih pesat. Sebaliknya, daerah yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi dinilai akan semakin sulit bersaing.

“Perkembangan teknologi saat ini sangat cepat. Karena itu kemampuan digital menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Pemerintah harus hadir dan mendukung siapa pun agar memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya di sela pelatihan tersebut.

Hampir seluruh aktivitas masyarakat dan dunia usaha disebut saat ini telah terhubung dengan teknologi digital. Pemasaran produk, layanan jasa, hingga pengembangan usaha kecil dinilai dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.

Kemampuan seseorang dalam bekerja atau berusaha perlu diimbangi dengan pemahaman pemasaran digital. Hal tersebut disampaikan oleh Yayan agar produk dan jasa yang ditawarkan dapat dikenal lebih luas.

“Seseorang bisa memiliki kemampuan yang bagus, misalnya jasa cukur rambut atau produk usaha lainnya. Tetapi jika tidak memahami cara pemasaran digital, masyarakat luas tidak akan mengetahuinya,” katanya.

Sebuah ekosistem yang menghubungkan masyarakat dengan pelatihan, dunia usaha, hingga akses permodalan sedang dibangun oleh Pemerintah Kota Bandung.

“Ini langkah awal. Tidak hanya mengajarkan kemampuan digital, tetapi juga bagaimana usaha bisa berkembang, mendapat dukungan modal, dan dipasarkan secara lebih luas,” tambahnya.

Berbagai pelatihan keterampilan juga dibuka melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) Ketenagakerjaan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya penciptaan kesempatan kerja yang lebih inklusif.

Komitmen Disnaker Kota Bandung dalam menghadirkan program berkelanjutan bagi penyandang disabilitas diapresiasi oleh Officer Penempatan Tenaga Kerja dan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), Agustini Pamungkas.

Pelatihan tersebut dinilainya bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap kemandirian ekonomi keluarga.

“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemkot Bandung terhadap teman-teman disabilitas. Program ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk terus berkarya, berusaha, dan bersaing,” ujarnya.

Dunia digital saat ini disebut membuka peluang usaha yang sangat luas. Peluang tersebut termasuk bagi masyarakat yang ingin menjalankan usaha dari rumah melalui media sosial dan pemasaran digital.

“Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Yang terpenting bukan hanya teori, tetapi bagaimana peserta juga dibangun rasa percaya dirinya agar siap berkembang dan sukses,” katanya.

Semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital melalui program tersebut. Peningkatan keterampilan, pembukaan peluang usaha, dan kemandirian ekonomi di Bandung menjadi target utama.