BANDUNG – Sampah tidak lagi sekadar menjadi barang buangan. Melalui program Great Bandung, sampah yang telah dipilah dapat ditukar menjadi sesuatu yang bernilai, mulai dari voucher belanja hingga layanan pemeriksaan kesehatan. Program tersebut kembali digelar melalui kegiatan rutin Belanja Bazar Pakai Sampah dalam rangkaian Hari Jadi ke-216 Kota Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan turut menukarkan sampah yang telah dipilah. Sebanyak 8 kilogram sampah kertas dan 0,5 kilogram sampah plastik bersih yang dibawanya ditimbang dan menghasilkan nilai Rp22.000. Nilai tersebut dikonversi menjadi voucher senilai Rp5.000 serta bonus layanan pemeriksaan kesehatan.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan inisiatif dari warga ini bisa memberikan nilai tambah tersendiri kepada upaya kita untuk memastikan bahwa penanganan sampah adalah penanganan bersama, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja,” ujar Farhan saat meninjau kegiatan Great Bandung di Balai Kota Bandung, Sabtu (12/9).
Harapan Perluasan dan Replikasi
Farhan menilai keberadaan Great Bandung menunjukkan masyarakat dapat menjadi motor penggerak dalam menyelesaikan persoalan sampah. Pemerintah berperan memberikan stimulasi sekaligus menyediakan ruang bagi komunitas untuk berkreasi.
Ia berharap gerakan ini dapat diperluas hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Saya sangat berharap komunitas Great Bandung yang pencapaiannya sudah luar biasa ini bisa berkembang sampai wilayah kecamatan dan kelurahan,” ucapnya.
Model pengelolaan sampah ini dinilai berpotensi direplikasi di daerah lain di Jawa Barat, seperti Great Bogor maupun Great Sukabumi.
Tantangan Teknis dan Nonteknis
Farhan mengakui masih ada tantangan dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung, terbagi menjadi aspek teknis dan nonteknis. Dari sisi teknis, Pemkot masih membenahi manajemen dan teknologi pengangkutan sampah setelah evaluasi bersama Bappenas dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Dari sisi nonteknis, tantangan terbesar adalah membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Edukasi dan sosialisasi dinilai kunci, termasuk melalui program Gaslah dan inisiatif komunitas seperti Great Bandung.
“Mau teknologinya canggih apa pun yang digunakan untuk pengelolaan sampah, harus ada pemilahan. Titik,” tandasnya.