BANDUNG BARAT – Kabupaten Bandung Barat memiliki beragam kesenian tradisional, salah satunya Sasapian, seni pertunjukan khas Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong. Berawal dari ritual adat masyarakat agraris, kesenian ini kini telah dikenal luas di Jawa Barat hingga ke berbagai daerah lain di Indonesia, Rabu (11/2).
Pemilihan sapi sebagai simbol utama Sasapian tidak terlepas dari nilai historis dan kultural masyarakat Sunda. Dikutip dari Tornare Journal of Sustainable Tourism Research (2021), pada masa Kerajaan Pajajaran yang dipengaruhi ajaran Hindu, sapi dipandang sebagai hewan suci dan kendaraan Dewa Wisnu. Secara geografis, wilayah Parongpong yang berada di dataran tinggi menjadikan pertanian dan peternakan sapi sebagai penopang ekonomi, sehingga sapi dimaknai sebagai simbol kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan hidup.
Dalam mitologi Sunda, sapi juga hadir dalam Wawacan Sulanjana melalui tokoh Sapi Gumarang, makhluk sakti penguasa padi di Kerajaan Galuh. Kisah ini memperkuat posisi sapi sebagai simbol bernilai luhur dalam kehidupan masyarakat Cihideung.
Sasapian diyakini telah ada sejak 1932 dan diwariskan secara turun-temurun. Kesenian ini lahir di tengah masyarakat agraris sebagai bagian dari ritual adat. Dalam pertunjukannya, para penari mengenakan kostum sapi berbahan bambu dan kain, diiringi musik kendang, gong, dan suling. Sebelum pentas, kostum disimpan di tempat sakral sebagai ritual perlindungan. Pertunjukan dipimpin tokoh adat dan kerap disertai unsur spiritual, di mana penari memasuki kondisi bawah sadar.
Memasuki era kolonial, Sasapian mulai mendapat ruang dalam acara resmi pemerintah Hindia Belanda. Kesenian ini dipelopori sesepuh desa Aki Madi, kemudian dilanjutkan Abah Wikarta, dan kini telah memasuki generasi keempat. Istilah “Buhun” dilekatkan untuk menandakan keaslian prosesi, musik, dan nilai-nilai leluhur yang masih dipertahankan.
Seiring waktu, Sasapian bertransformasi dari ritual adat menjadi pertunjukan rakyat. Kini kesenian ini tampil dalam festival budaya, peringatan Hari Kemerdekaan, hingga pesta rakyat. Inovasi Sasapian Modern turun hadir dengan memadukan unsur tradisional dan musik kontemporer guna menarik minat generasi muda. Namun, Sasapian Buhun tetap dilestarikan sebagai bentuk penjagaan tradisi asli.
Pada masa lalu, Sasapian menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual irung-irungan, upacara adat memohon keberkahan hasil bumi dan kesuburan tanah. Sesaji seperti bunga, air kelapa, tumpeng, dan domba hitam disiapkan sebagai simbol penolak bala dan pengundang rezeki.
Hingga kini, Sasapian tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan warisan budaya yang merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat Sunda.