Bandung – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung mulai mempersiapkan pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 dengan melatih hampir 2.000 calon petugas pendataan. Sensus yang akan berlangsung pada 15 Juni hingga 30 Agustus 2026 itu akan memetakan seluruh aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor ekonomi digital yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala BPS Kota Bandung, Nevi Hendri, mengatakan Sensus Ekonomi merupakan kegiatan nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun untuk mendata seluruh pelaku usaha dan aktivitas ekonomi di wilayah Kota Bandung.
“Kalau sensus, semua didata. Tidak ada yang terlewat, seluruh pelaku usaha ekonomi dan rumah tangga di Kota Bandung akan menjadi sasaran pendataan,” ujar saat membuka pelatihan petugas di Hotel Sari Ater Kamboti, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola transaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 akan memberikan perhatian khusus pada sektor ekonomi digital yang kini menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.
Aktivitas ekonomi berbasis digital seperti perdagangan melalui e-commerce, penggunaan dompet digital, hingga profesi konten kreator dan dropshipper dinilai perlu terdata untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai struktur ekonomi Kota Bandung.
“Generasi muda sekarang bisa menghasilkan pendapatan hanya bermodalkan telepon genggam dan internet. Aktivitas ekonomi seperti ini harus terdata karena menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi Kota Bandung,” katanya.
Sebanyak 650 peserta mengikuti pelatihan gelombang pertama yang digelar di empat training center. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pendataan, pemahaman instrumen sensus, serta penggunaan aplikasi digital yang akan digunakan selama kegiatan lapangan.
Nevi menegaskan kualitas data menjadi prioritas utama karena hasil sensus akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan di tingkat pusat maupun daerah.
“Jangan main-main dengan data. Data yang dikumpulkan akan menentukan arah kebijakan ekonomi, sosial, hingga kesejahteraan masyarakat ke depan,” ujarnya.
Selain mendata pelaku usaha, Sensus Ekonomi 2026 juga akan memperbarui berbagai informasi sosial ekonomi rumah tangga yang dibutuhkan pemerintah dalam penyusunan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, , mengapresiasi kesiapan BPS Kota Bandung dalam menyelenggarakan Sensus Ekonomi 2026. Menurutnya, petugas sensus memiliki peran penting dalam menghasilkan data yang akurat dan berkualitas.
“Data yang akurat adalah aset pembangunan yang sangat berharga. Kebijakan yang tepat hanya bisa lahir dari data yang benar,” kata Erwin.
Ia juga mengingatkan para petugas untuk menjaga profesionalisme, etika, dan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat selama proses pendataan berlangsung.
Hasil Sensus Ekonomi 2026 nantinya akan menjadi dasar penyusunan berbagai program pembangunan daerah, termasuk penguatan sektor UMKM. Pemerintah Kota Bandung berencana membangun UMKM Center di 30 kecamatan, dengan data hasil sensus sebagai rujukan utama dalam menentukan program dan bantuan yang tepat sasaran bagi pelaku usaha.
Dengan dukungan teknologi digital, sistem pemantauan real-time, serta ribuan petugas yang telah disiapkan, BPS Kota Bandung optimistis dapat menghasilkan data ekonomi yang akurat untuk mendukung pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.