BANDUNG – Banyak masyarakat merasa sehat karena tidak mengalami keluhan apa pun. Namun, kondisi tersebut dinilai belum tentu menunjukkan tubuh benar-benar sehat. Sejumlah penyakit dan kelainan darah justru kerap berkembang tanpa gejala yang jelas dan baru diketahui setelah pemeriksaan laboratorium dilakukan.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.PD., KHOM., MMRS., FINASIM, dalam SONATA Talkshow yang mengangkat tema “Merasa Sehat Belum Tentu Sehat Mengenal Penyakit dan Kelainan Darah yang Sering Datang Tanpa Gejala”, Rabu (10/6).
Salah satu kelainan darah yang paling sering ditemukan adalah anemia atau kondisi kadar hemoglobin (Hb) yang rendah. Anemia disebut memiliki tingkatan mulai dari ringan, sedang, hingga berat.
“Pada anemia ringan, sering kali seseorang tidak merasakan gejala apa pun karena tubuh masih mampu melakukan kompensasi. Biasanya keluhan baru mulai muncul ketika kadar Hb sudah sangat rendah,” ujarnya.
Gejala anemia yang mulai dirasakan antara lain mudah lelah, lesu, sulit berkonsentrasi, hingga sesak napas. Namun, banyak kasus anemia ditemukan secara tidak sengaja saat seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.
Anemia cukup sering ditemukan pada perempuan. Menstruasi disebut sebagai salah satu penyebabnya karena mengurangi kadar hemoglobin. Faktor gizi yang kurang juga dapat berkontribusi terhadap rendahnya kadar Hb.
Pentingnya kesehatan darah bagi perempuan yang akan menikah dan merencanakan kehamilan turut disorot olehnya. Anemia pada ibu dinilai dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk stunting pada anak.
Selain anemia, beberapa penyakit darah bersifat genetik atau diturunkan dari orang tua kepada anak, seperti thalasemia dan hemofilia.
“Thalasemia menjadi perhatian karena banyak penderitanya tidak bergejala. Jika kedua pasangan sama-sama membawa sifat talasemia, anak yang dilahirkan berisiko mengalami talasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah seumur hidup,” jelasnya.
Pasangan yang akan menikah disarankan untuk memeriksakan darah terlebih dahulu guna mengetahui kemungkinan adanya kelainan darah yang dapat diturunkan kepada keturunan.
Berbagai kelainan darah lain yang dapat diketahui melalui pemeriksaan darah rutin juga dijelaskan olehnya. Kelainan pada sel darah putih atau leukosit dapat menunjukkan adanya infeksi, gangguan autoimun, hingga kanker darah seperti leukemia. Kelainan pada trombosit dapat berkaitan dengan demam berdarah, infeksi kronis, hingga gangguan pembekuan darah.
“Terkadang penyakit darah bukan berdiri sendiri, tetapi menjadi penanda adanya penyakit lain di dalam tubuh. Karena itu pemeriksaan darah rutin sangat penting sebagai langkah deteksi dini,” katanya.
Pemeriksaan darah dasar yang meliputi hemoglobin, leukosit, dan trombosit dinilai sudah cukup untuk memberikan gambaran awal kondisi kesehatan seseorang. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas.
Bagi masyarakat berusia di bawah 40 tahun tanpa keluhan, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara berkala setiap beberapa tahun. Bagi mereka yang sering merasa cepat lelah, mengantuk berlebihan, sulit berkonsentrasi, atau memiliki keluhan lain yang tidak jelas penyebabnya, pemeriksaan darah dianjurkan untuk dilakukan lebih cepat.
Masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa merasa sehat tidak selalu berarti bebas dari penyakit. Pemeriksaan kesehatan secara rutin disebut sebagai langkah penting untuk mendeteksi gangguan darah sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.