BANDUNG, – Mantra dalam tradisi Sunda bukan sekadar rangkaian kata mistis yang dibisikkan dalam ritual. Di baliknya, tersimpan kekayaan sastra lisan dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Secara etimologis, mantra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti teks suci, doa, atau syair sakral. Dalam kebudayaan Sunda, mantra berkembang menjadi produk budaya yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kekuatan gaib menjadi jembatan antara kehidupan sehari-hari dengan dimensi transcendental, Kamis (5/3).

Berdasarkan buku Budaya Sunda Perspektif Islam, tradisi Sunda membagi mantra ke dalam tujuh kategori berdasarkan tujuannya: jampe, asihan, singlar, jangjawokan, rajah, ajian-ajian, dan pelet. Ketujuhnya kemudian dikelompokkan ke dalam dua kutub moral, yakni mantra putih dan hitam.

Mantra putih digunakan untuk tujuan baik seperti pengobatan, perlindungan diri, hingga menjaga keserasian dengan alam. Sebaliknya, mantra hitam ditujukan untuk mencelakai atau memperdaya orang lain.

Ciri khas mantra Sunda juga terlihat dari gaya bahasanya. Berdasarkan catatan e-Journal Perpustakaan Nasional (2016), mantra ajian misalnya, menggunakan kosakata yang menunjukkan superioritas pembacanya.

Sia tunduk taluk dina dampal suku aing” ( Kamu tunduk di bawah telapak kakiku ), demikian bunyi salah satu mantra ajian.

Sementara jampe atau jangjawokan lebih banyak dipengaruhi bahasa Jawa dan Arab dengan nada lebih rendah hati karena bersandar pada kekuasaan Tuhan. Seperti dalam kutipan: “Dug turu gulingan jati, badan turu ati tanghi, dep madep maring Allah, lailahailelloh.”

Meski dikenal sebagai sastra lisan, mantra Sunda ternyata telah lama terdokumentasi secara tertulis. Jejaknya ditemukan dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Karesian dari abad ke-16. Perpustakaan Nasional RI juga menyimpan sejumlah naskah seperti Mantera Aji Cakra dan Mantera Darmapamulih.

Secara struktural, mantra Sunda umumnya menggunakan bahasa Sunda buhun (kuno). Kekuatannya terletak pada permainan bunyi, rima, dan irama yang memberi kesan magis saat dibacakan. Diksi simbolis yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai doa, tetapi juga melambangkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Dokumentasi mantra dalam kropak-kropak kuno seperti Kropak 409 (Soeloek Kidoengan Tetoelak Bilahi), Kropak 413, dan Kropak 414 (Pekeling dan Mantra) menjadi bukti kesadaran literasi leluhur Sunda dalam mengabadikan pengetahuan spiritual.

Naskah-naskah itu juga merekam sinkretisme Bahasa campuran Sunda buhun dengan pengaruh Jawa dan Arab yang menunjukkan sifat masyarakat Sunda yang dinamis dan terbuka tanpa kehilangan jati diri.

Mantra Sunda pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap rangkaian kata, tersimpan harapan akan keseimbangan hidup antara manusia, Pencipta, dan alam semesta.