CIMAHI, – Ribuan warga memadati ruas jalan di Kota Cimahi, Jawa Barat, pada Selasa (17/3/2026) untuk menyaksikan pawai budaya dan ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Acara yang berlangsung meriah ini tidak hanya menampilkan tradisi umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol kuat kerukunan antar umat beragama dan etnis di “Lapangan Pussenarhanud” tersebut.
Pawai dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Wali Kota Cimahi, Letkol (Purn.) Ngatiyana. Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudparpora) Provinsi Jawa Barat, serta Pejabat PHDI Brigjen TNI (Purn) Made Riawan.
Wali Kota Ngatiyana yang baru pulih dari perawatan rumah sakit selama delapan hari, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa perayaan ini adalah bukti nyata kerukunan di Cimahi yang dihuni oleh 23 etnis berbeda.
“Saya harus hadir di tengah-tengah Bapak Ibu sekalian karena kami sangat menghargai keluarga besar umat Hindu. Di Cimahi, kita junjung tinggi kerukunan antar agama, suku, dan ras. Alhamdulillah, 23 etnis rukun semuanya di sini,” ujar Ngatiyana dalam sambutannya.

Semangat kebersamaan itu terlihat dari atraksi yang ditampilkan. Sebanyak 119 penari dari lintas usia mempersembahkan Tari Pendet, tarian tradisional Bali yang menjadi simbol kehormatan perempuan Bali. Kemeriahan semakin bertambah dengan kehadiran ogoh-ogoh, patung raksasa yang merupakan simbolisasi sifat negatif yang dinetralkan menjelang Hari Raya Nyepi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat yang mewakili Gubernur, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, acara ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang potensial.
“Ini membuktikan bahwa kerukunan antar umat beragama di Kota Cimahi sangat kuat. Hal seperti ini bisa menjadi daya tarik pariwisata. Selain wisata militer dan Cirendeu, wisata budaya seperti ini patut dikembangkan,” ujarnya mewakili Gubernur.
Ketua Panitia, Letkol CBA Made Widhiartana, melaporkan bahwa rangkaian kegiatan menyambut Nyepi telah dimulai sejak awal Maret. Kegiatan tersebut antara lain bakti sosial berbagi dengan masyarakat pada 1 Maret, penanaman pohon di Taman Lembah Dewata pada 8 Maret sebagai wujud pelestarian alam, dan upacara Melasti di sumber air pada 14 Maret.
“Pawai budaya dan ogoh-ogoh ini adalah puncak acara yang melibatkan partisipasi masyarakat dari berbagai unsur. Ini menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat keberagaman di Kota Cimahi,” jelas Made Widhiartana.Perayaan Hari Suci Nyepi mengusung nilai pengendalian diri dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai universal ini
