Bandung Barat – Di tengah ancaman krisis pangan global, Kasepuhan Ciptagelar, komunitas adat di kaki Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat, membuktikan diri memiliki cadangan beras yang cukup untuk 95 tahun ke depan. Mereka melakukannya tanpa mengandalkan teknologi modern atau rantai pasok global, melainkan melalui kearifan lokal turun-temurun yang disebut leuit, Kamis (26/3).
Leuit, atau lumbung komunal, menjadi kunci utama ketahanan pangan masyarakat adat ini. Setiap kali panen, warga diwajibkan menyisihkan 10 persen hasil panen untuk disimpan. Tradisi yang telah berlangsung konsisten selama ratusan tahun itu menciptakan cadangan pangan dalam jumlah besar yang mampu bertahan hingga hampir satu abad.
“Padi bukan sekadar komoditas. Menjaganya adalah bentuk penghormatan kepada Nyai Pohaci Sanghyang Asri, simbol pemberi kehidupan,” demikian amanat leluhur yang dijaga sejak 1368, yang menjadikan keberlangsungan pangan sebagai mandat utama warga Ciptagelar.
Menurut penelitian Nugraha (2020), leuit tidak sekadar bangunan penyimpanan, melainkan manifestasi dari opat kalima pancer, ajaran kosmologis Sunda yang menempatkan manusia dalam harmoni dengan alam dan Sang Pencipta. Dalam kerangka pandangan hidup ini, padi tidak dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan simbol kehidupan.
Keandalan sistem ini diperkuat oleh konstruksi leuit yang dirancang cermat. Berbentuk panggung dengan bahan bambu dan kayu, bangunan ini memungkinkan sirkulasi udara alami menjaga kadar air padi di bawah 14 persen, sehingga gabah tidak mudah rusak atau membusuk.
Masyarakat Ciptagelar juga menerapkan teknik pocongan, menyimpan padi bersama tangkainya. Lapisan sekam yang masih utuh berfungsi sebagai pelindung alami dari oksidasi dan serangan hama, tanpa perlu pestisida atau bahan kimia. Metode ini membuat padi dapat bertahan dalam kondisi baik hingga puluhan tahun.
Dalam kebudayaan Sunda, sistem penyimpanan padi terbagi menjadi dua, seperti dijelaskan budayawan Jakob Sumardjo dalam bukunya Sunda Pola Rasionalitas Budaya (2011). Goah adalah ruang penyimpanan pribadi di dalam rumah yang bersifat feminin, sementara leuit adalah lumbung komunal yang berfungsi sebagai “bank sosial” sekaligus simbol keberlanjutan.
Manajemen penyimpanan pun dilakukan dengan prinsip first in, first out (FIFO). Padi dengan masa simpan tertua digunakan terlebih dahulu, sementara hasil panen terbaru disimpan untuk masa mendatang. Beberapa studi menunjukkan padi yang disimpan lebih lama justru memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi sehingga baik bagi kesehatan.
Keberhasilan Kasepuhan Ciptagelar membuktikan bahwa tradisi yang dijaga secara konsisten tidak selalu tertinggal dari teknologi modern. Kearifan lokal justru mampu menjadi solusi nyata dalam menghadapi tantangan pangan global.
