BANDUNG, – Tarawangsa bukanlah sekadar hiburan. Kesenian musik tradisional Sunda yang hidup dalam ritual masyarakat agraris di wilayah Bandung ini berfungsi sebagai medium penghubung antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.
Demikian disampaikan seorang pemain Tarawangsa asal Sumedang, Asep Sunarya (42), kepada wartawan, Kamis (2/4).
“Tarawangsa itu bukan sekadar alat musik. Nada-nadanya sakral. Kami memainkannya bukan untuk panggung, tapi untuk menyambungkan rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta, alam, dan leluhur ” ujar Asep yang telah menekuni Tarawangsa selama 20 tahun terakhir.
Secara musikal, Tarawangsa dimainkan dengan dua alat utama tarawangsa (gesek dua senar mirip rebab) dan jentreng (petik tujuh senar seperti kecapi). Perpaduan keduanya menghasilkan alunan nada lembut, repetitif, dan kontemplatif.
“ Ketika kami memetik jentreng dan menggesek tarawangsa, iramanya mengalir pelan. Tidak bisa terburu-buru. Suasananya jadi hening, pikiran tenang. Itulah yang membawa orang masuk ke suasana spiritual,” tambah Asep.
Kesenian ini telah dikenal sejak lama, bahkan disebut dalam naskah kuno Sewaka Darma dari abad ke-15. Hingga kini, Tarawangsa tetap lestari, terutama di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang, sebagai identitas budaya masyarakat setempat.
Tarawangsa lahir dari tradisi pertanian dan kepercayaan terhadap siklus alam. Kesenian ini kerap dipentaskan dalam ritual panen seperti upacara Ngalaksa ungkapan syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan, serta kepada para leluhur. Tradisi Ngalaksa bersama Tarawangsa telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Selain musik, Tarawangsa juga menghadirkan ibingan gerak ritual yang lahir dari penghayatan terhadap alunan nada. Gerakannya sederhana, mengalir, repetitif, dan umumnya dibawakan oleh penari perempuan.
”Ibingan Tarawangsa tidak direkam. Tidak ada pola panggung yang kaku. Tubuh penari bergerak mengikuti rasa dari musik. Kadang, mereka masuk ke pengalaman meditatif, bahkan transendental. Itu wajar karena tujuannya memang menyatukan diri dengan alam dan Yang Kuasa,” jelas Asep.
Melalui bunyi dan gerak yang diwariskan turun-temurun, Tarawangsa mengajarkan bahwa seni tak hanya untuk ditonton, tetapi juga menjadi sarana perenungan dan penghubung dengan nilai-nilai kehidupan.
“Kami hanya meneruskan apa yang diwariskan leluhur. Tarawangsa menjaga harmoni: manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama. Itu intinya,” pungkas Asep.
