Bandung Barat, – Seorang pendidik sejati dinilai bukan sekadar dari kemampuannya mengajar, melainkan dari kapasitasnya untuk menginspirasi. Hal ini ditekankan oleh Guru Besar Syafii Efendi dalam sebuah paparan publik. Menurutnya, kunci utama transformasi diri dimulai dari mengatasi “habit problem” atau masalah kebiasaan.
“Langkah pertama yang harus diubah adalah kebiasaan. Dalam bahasa Inggris disebut habit problem. Ini masalah besar. Banyak orang datang kepada saya, mengikuti acara seperti ini dengan tekad, ‘Saya mau berubah’. Namun, dua hari kemudian kembali ke pola lama. Itu yang sering terjadi,” ujar Syafii Efendi, Kamis (29/1).

Ia menjelaskan bahwa perubahan yang berkelanjutan harus didukung oleh dua komponen utama. Komponen terpenting, yang menyumbang sekitar 80% fondasi perubahan, adalah pengetahuan.
“Dengan pengetahuan yang tepat, cara tercepat untuk mengubah hidup adalah dengan mengganti ‘sirkel’ atau lingkungan pergaulan,” tegasnya.
Syafii Efendi kemudian memberikan analogi yang tegas mengenai komitmen perubahan. “Ganti apa? Nasi. Ganti nasi. Artinya, beranilah berhenti menjalani hidup berdasarkan kata orang lain. Jalani hidup berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Tuhan,” katanya.
Dalam sesinya, ia juga mengajak audiens untuk melakukan refleksi mendalam. “Pertama, coba lihat hidup Anda. Kebahagiaan Anda, kebahagiaan orang tua, status sosial Anda. Jika Anda mudah tersinggung, itu pertanda Anda ‘ketinggalan’ dari tuntunan Tuhan,” ucapnya.
Di akhir paparan, Syafii Efendi menyampaikan pesan tentang melepaskan beban masa lalu dan mengelola kekhawatiran. “Masa lalu sudah berlalu. Ikhlaslah. Jika Anda khawatir berlebihan, itu artinya Anda perlu terus ‘sekolah’, terus belajar,” pungkasnya, menekankan bahwa proses pembelajaran dan perbaikan diri adalah solusi fundamental untuk mengatasi kecemasan.