BANDUNG BARAT – Momentum reses yang seharusnya menjadi ruang aspirasi dan kehadiran nyata wakil rakyat, justru berubah jadi panggung kekecewaan di Ciburuy. Acara Gerakan Pangan Murah yang dihelat di Lapangan Voli Ciburuy, Kamis (6/3/2026), bersama Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi NasDem, Rajiv Singh, berbuntut kekesalan warga yang merasa ditipu oleh program receh.
Alih-alih mendapatkan bahan pokok murah, warga yang datang justru disuguhkan kenyataan pahit: harga pangan yang dijual tak berbeda dengan pasar, dan sebagai “bantuan”, mereka hanya diberi voucher diskon Rp10 ribu. Nilai yang oleh warga disebut sebagai tamparan, bukan uluran tangan.

“Ini reses atau resepsi? Kami datang karena butuh bantuan nyata, bukan kupon receh yang tidak berarti. Harga beras, telur, minyak di sini sama saja dengan di luar. Bantuan macam apa ini?” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Kehadiran Rajiv Singh yang diagendakan untuk menyerap aspirasi rakyat justru terasa hampa. Warga menilai acara ini tak lebih dari pencitraan belaka. Foto-foto dan sambutan hangat dari panggung tak sejalan dengan realita pahit yang dirasakan warga di lapangan.
“Pak Rajiv datang, bagi-bagi voucher, lalu pergi. Sementara kami yang berdesakan dari pagi pulang dengan kecewa. Ini namanya bukan reses, tapi teater politik,” timpal warga lain.
Warga mempertanyakan efektivitas program yang mengatasnamakan stabilisasi harga pangan. Jika hanya mengandalkan voucher Rp10 ribu sementara harga sembako sama dengan pasaran, lalu apa gunanya negara hadir dengan anggaran besar untuk acara seremonial seperti ini?
“Harapannya kan harga meringankan, tapi kenyataannya sama saja. Mending tidak usah diadakan kalau cuma bagi-bagi voucher receh. Ini malah menambah kekecewaan,” keluh seorang ibu rumah tangga.
Di sudut lokasi, raut wajah kecewa terpampang jelas dari warga RW 16 yang datang sejak pagi. Mereka membawa harapan besar kepada wakil rakyat yang datang di masa reses, namun harus pulang dengan tangan hampa dan hati perih.
Gerakan Pangan Murah di Ciburuy akhirnya hanya menjadi saksi bisu betapa jauhnya jarak antara janji politik dan realita kebutuhan rakyat. Reses yang semestinya menjadi oase, justru berubah menjadi fatamorgana di tengah gersangnya harga pangan.
