BANDUNG BARAT, – Di tengah arus modernisasi, warisan budaya lisan tertua dari Tanah Sunda masih terus dijaga eksistensinya. Carita Pantun, sebuah bentuk kesusastraan asli masyarakat Sunda, menjadi bukti kekayaan intelektual dan spiritual leluhur yang lahir jauh sebelum pengaruh sastra asing masuk.

Berbeda dengan pantun Melayu yang berbentuk puisi pendek dan bersajak, Carita Pantun adalah cerita narasi panjang yang dituturkan oleh seorang juru pantun. Pagelaran seni bertutur ini dalam tradisi Sunda dikenal dengan sebutan mantun, Kamis (19/2).

Berdasarkan buku Carita Pantun Eksistensi di Masyarakat Sunda (2022), kesenian ini diperkirakan telah hadir di Jawa Barat sejak 500 tahun silam, atau bahkan sebelum tahun 1518 Masehi. Para ahli menduga Carita Pantun diciptakan di lingkungan elite kerajaan Sunda sekitar tahun 1300–1400 Masehi. Dugaan ini didasari oleh adanya unsur Tantrisme-Buddha serta pengaruh Hindu-Buddha yang kental dengan pemikiran mistis-spiritual pada masa tersebut.

Bukti tertulis tertua mengenai keberadaan Carita Pantun ditemukan dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada tahun 1518 M. Dalam naskah tersebut, disebutkan empat judul carita pantun awal, yaitu Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi, dan Haturwangi. Catatan ini mengukuhkan Carita Pantun sebagai tradisi lisan berbentuk sastra Sunda asli yang paling tua.

Dipentaskan Semalam Suntuk

Dikutip dari Journal of Historical and Cultural Research (2016), kesenian Carita Pantun merupakan prosa liris atau prosa berirama yang mengisahkan masa lalu tentang raja-raja keturunan Pajajaran. Pertunjukan biasanya digelar semalam suntuk, dimulai setelah salat Isya hingga menjelang Subuh.

Sang juru pantun tidak hanya dituntut menghafal seluruh cerita di luar kepala, tetapi juga harus memainkan alat musik khas bernama kacapi pantun. Alat ini berbeda dari kacapi biasa karena bentuknya lebih besar dan menyerupai perahu tanpa layar. Di beberapa daerah seperti Karawang, alat ini ditambah dengan suling, sementara di Sumedang dipadukan dengan musik tarawangsa.

Kental dengan Unsur Spiritual

Struktur Carita Pantun memiliki keunikan karena terkait erat dengan kepercayaan setempat. Setiap pertunjukan selalu diawali dengan rajah pembuka (pamuka), yakni mantra atau doa yang diucapkan juru pantun sebelum memulai cerita. Rajah ini bertujuan meminta izin kepada karuhun (leluhur) atau makhluk gaib penguasa alam seperti gunung, sungai, dan pohon besar agar pagelaran berlangsung lancar dan selamat.

Setelah mengisahkan petualangan heroik para ksatria atau raja-raja Sunda, pertunjukan ditutup dengan rajah penutup (pamungkas/pamunah). Mantra ini menjadi tanda berakhirnya pagelaran sekaligus ungkapan syukur serta permohonan perlindungan kepada leluhur dan makhluk gaib.

Salah satu kisah yang kerap dituturkan adalah pengembaraan Begawat Iman Sonjaya, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran, ke Kuta Ngagangsa. Cerita ini sarat akan nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan penghormatan kepada leluhur.

Hingga kini, Carita Pantun tetap dipandang sebagai sumber sejarah lisan yang sangat berharga bagi identitas masyarakat Sunda. Meskipun pementasannya semakin jarang ditemukan, nilai-nilai filosofis dan sejarah yang terkandung di dalamnya terus dijaga sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia.