LEMBANG – Di balik pesona pariwisata modern kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tersimpan Situs Buniwangi yang dijaga ketat oleh waktu dan masyarakat setempat. Berlokasi di Kampung Buniwangi, Desa Mekarwangi, situs ini bukan sekadar area pemakaman, melainkan simpul yang menghubungkan masa kini dengan narasi legendaris Prabu Siliwangi dan tokoh mistis Kentring Manik, Sabtu (18/7).

Berbeda dengan situs arkeologi berbasis temuan fisik, sejarah Buniwangi lebih banyak mengalir melalui tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.

Asal Usul dan Penamaan Buniwangi

Nama Buniwangi diyakini memiliki pertalian erat dengan periode akhir Kerajaan Sunda. Tradisi tutur menceritakan bahwa Prabu Siliwangi pernah singgah di wilayah ini dalam pengembaraannya meninggalkan pusat kerajaan pasca-peristiwa Bubat.

Setelah kepergian Prabu Siliwangi, kawasan ini dihuni Dalem Wangi, kemudian ditempati oleh tokoh bernama Buniwangi atau Kentring Manik. Hingga kini, belum ditemukan bukti primer seperti naskah kuno atau prasasti yang mengonfirmasi kronologi tersebut sebagai fakta sejarah absolut.

Sosok Kentring Manik dan Kompleksitas Situs

Dalam catatan Komunitas Aleut yang mengutip penulis Belanda W.H. Hoogland, Kentring Manik digambarkan sebagai penguasa gaib Kota Bandung dan penjaga mata air Sungai Citarum. Ia sering dikaitkan sebagai permaisuri Prabu Siliwangi.

Situs Buniwangi terbagi menjadi dua bagian utama

Paseban Ruang untuk berdoa dan ritual penghormatan kepada leluhur

Pendopo Lokasi makam yang dianggap paling sakral

Pohon Purba dan Lanskap Budaya

Keunikan situs juga terpancar dari keberadaan lima jenis pohon purba yang dijaga ketat Jajaway, Nunuk, Kawung, Lame, dan Pancawarna. Pohon Jajaway dipercaya sebagai yang paling tua.

Dalam kosmologi Sunda, pepohonan di kawasan kabuyutan bukan sekadar vegetasi, melainkan elemen lanskap budaya yang menyatu dengan narasi sejarah.

Kabuyutan di Tengah Modernitas

Penelitian Dafidl Akmal Al-rasyid dari Universitas Katolik Parahyangan menegaskan pola ruang Kampung Buniwangi masih mempertahankan karakteristik kabuyutan Sunda, dengan kaitan harmonis antara situs keramat, permukiman, dan aktivitas ekonomi.

Situs Buniwangi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berbentuk prasasti atau monumen megah. Memahami situs ini secara kritis menghargai tradisi lisan sekaligus berpijak pada kajian ilmiah  adalah cara terbaik merawat warisan budaya untuk generasi mendatang.